Rabu, 21 Januari 2015

MENTRADISIKAN KEMBALI NILAI ISLAM DI PESANTREN



Sejarah Islam di Indonesia merekam dengan jelas bahwa pesantren memiliki peranan besar dalam membangun masyarakat yang berbudaya dan berperadaban. Eksistensi pesantren di Indonesia sering mendapat pujian, apalagi dari masyarakat muslim sendiri. Pada saat yang sama, lembaga ini sering pula mendapat kecaman dan dilabelkan sebagai institusi yang banyak “menghambat” kemajuan Islam. Bahkan eksistensi pesantren “dituding” sebagai –maaf- “sarang teroris”. Kontroversi mengenai pesantren seperti itu secara tidak langsung telah menempatkan pesantren sebagai institusi yang cukup penting untuk selalu diperhatikan. Pandangan positif akan menempatkan kontroversi tersebut sebagai peluang untuk memperkuat peran pesantren itu sendiri.
Kondisi tersebut pun tidak lepas dari perjalanan panjang Pesantren Pondok Karya Pembangunan Manado yang kini berusia 37 tahun. Hampir empat dekade Pesantren PKP berkiprah dan mencatatkan diri sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam yang layak untuk diperhitungkan di Sulawesi Utara. Sejak awal berdirinya -sebagai salah satu bangunan monumental MTQ ke-X Tahun 1977 di Manado-, Pesantren PKP tentu mengalami dinamisasi dalam proses perkembangan santri dan pembinaannya. Pola pembinaan yang harus menyesuaikan dengan kondisi kekinian adalah sebuah tantangan demi tetap tegak dan lestarinya pesantren. Dari sisi ini, dibutuhkan sebuah semangat baru untuk sebuah perubahan demi kemajuan pesantren. Sama halnya dengan Islam yang perlu menyesuaikan dengan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman itu sendiri. Majunya pesantren bukan saja terletak pada berubahnya bangunan fisik semata, tapi juga sikap dan prilaku santri yang mencerminkan dan mentradisikan akhlak mulia baik di lingkungan pesantren maupun di luar.
Ibarat tanaman, guna menghasilkan panen yang baik sebagai sebuah produk unggulan, banyak hal yang perlu diperhatikan. Bibit yang unggul belumlah cukup jika sistem dan cara pengolahannya asal-asalan. Jika bibit yang baik ini dirawat, dipelihara dan dipupuki, diolah dengan baik, maka akan menghasilkan tanaman yang baik pula.
Secara sederhana, tidak semua orangtua berharap anaknya yang nyantri menjadi ulama, tapi setidaknya mereka paham dan mampu mengaplikasikan cara menjadi muslim yang baik. Inilah sesungguhnya keunggulan pesantren dibandingkan sekolah lainnya. Pola pembiasaan yang kemudian menjadi tradisi yang baik selama berada di lingkungan pesantren akan memberikan pengaruh positif ketika santri tidak lagi bermukim di pesantren.
Peran kyai sebagai salah satu unsur penting dari sebuah pesantren, ikut menentukan maju mundurnya pesantren. Kyai sebagai pendidik di pesantren menjadi figur sentral yang dipatuhi dan ditiru oleh para santrinya. Secara teoretis, Kekuatan Kyai berakar pada  kredibilitas moral dan kemampuan mempertahankan pranata sosial yang diinginkan. Semakin sepuh seorang kyai, semakin tinggi wibawa yang dimilikinya dan tentu saja berimbas pada kewibawaan pesantren. Bisa dibilang bahwa kewibawaan kyai dan pesantren adalah seperti koin dengan dua sisi yang tidak bisa dipisahkan.  
Santri angkatan ke-6 pasca EBTAN Tahun 1987
Santri baru tahun 2012 usai kegiatan Pramuka

Kyai memang tidak didasarkan pada jenjang pendidikan secara ketat dan khusus. Para ahli mengemukakan setidaknya ada 3 syarat kyai, yaitu memiliki keilmuan agama yang cukup luas di atas ukuran rata-rata masyarakatnya, memiliki integritas moral sehingga menjadi panutan masyarakatnya, dan mendapat pengakuan yang kuat dari masyarakatnya. Itu sebabnya perlu sebuah proses yang panjang dan teruji untuk layak menjadi kyai dan memimpin sebuah pesantren.
Tulisan sederhana ini mencoba untuk mengajak semua komponen yang peduli dengan pesantren PKP Manado untuk mereview perjalanan panjang pesantren yang diresmikan oleh mantan Presiden R.I. alm. H. Soeharto kurun waktu hampir empat dekade.   Congratulation, Dirgahayu pondokku LPI PKP Manado.


Minggu, 20 Juli 2014

RAMADHAN YOUTH CAMP 2014 ROHIS SMA NEGERI 9 MANADO





Ramadhan datang dengan sejuta harapan dan memberikan sebuah pola pembelajaran yang baik bagi orang-orang yang beriman. Pribadi yang baik akan tampak manakala proses belajar melalui pembiasaan itu berlangsung secara kontinyu dan teratur. Kehadiran Ramadhan diantaranya membawa pola pembiasaan berakhlak al-karimah, terutama bagi para peserta didik.
Hal tersebut diungkapkan Pembina Rohis SMA Negeri 9 Manado, Supriadi S.Ag., M.Pd.I., dalam acara Penutupan Ramadhan Youth Camp 2013 yang berlangsung di Balai Diklat Keagamaan Manado kemarin. Kurikulum 2013 yang menekankan pada pembentukan karakter peserta didik perlu ditunjang dengan kegiatan-kegiatan seperti ini agar mereka lebih terlatih afektif dan psikomotornya, lanjut Supriadi yang juga Ketua Musyawarah Guru  Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SMA se-Kota Manado.
Kegiatan yang bertujuan memupuk ukhuwah dan meningkatkan nilai-nilai ketaqwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa tersebut berlangsung selama tiga hari sejak Jumat - Minggu, 18- 20 Juli 2014 dibuka secara resmi oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Manado yang diwakili oleh Pembina ROHIS Supriadi. Menurutnya, dengan kegiatan tersebut diharapkan mampu menambah pemahaman serta penanaman nilai-nilai Islam bagi peserta didik muslim di SMA Negeri 9 Manado, khususnya bagi kelas X yang baru saja bergabung. Pihak sekolah, lanjutnya merasa bangga bahwa kegiatan religius yang digagas oleh Rohis senantiasa mendapat apresiasi yang tinggi dari berbagai pihak. Ketika perubahan zaman dan arus global semakin deras, maka nilai-nilai religius diperlukan guna mengantisipasi dan membentengi generasi muda dari aneka pengaruh negatif. Pihaknya akan terus mendukung kegiatan-kegiatan yang bernuansa religius dan mengedepankan nilai-nilai karakter, lanjutnya. Hal ini terbukti mulai tahun ajaran 2014/2015, SMAN 9 Manado telah memiliki Mushalla (tempat salat) selain ruang Keimanan Agama Islam. 
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut merupakan ajang pengenalan Rohis bagi para peserta didik baru di SMA Negeri 9 Manado sekaligus penanaman nilai-nilai religious yang bukan saja menjadi sebuah ritualitas, tapi melatih spiritualitas peserta. Ketua Panitia Ayu Widya Ismail yang didampingi sekretaris panitia Reza Lufna menyatakan bahwa RYC 2014 juga menjadi upaya menjalin dan mempererat ukhuwah diantara peserta didik muslim yang baru di SMA Negeri 9 Manado, serta berupaya memantapkan amaliah-amaliah Ramadhan yang diharapkan akan terus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari terlebih lagi bagi 96 peserta. Rohis sebagai salah satu organisasi sub OSIS terbilang sangat aktif dalam melaksanakan berbagai kegiatan keislaman yang tentunya berdampak pada proses pembentukan religius culture di SMA Negeri 9 Manado.

Sabtu, 12 Juli 2014

MISTERI LAILATUL QADAR




 

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan).
Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala uuusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. "
(Q.S. Al-Qadr: 1-5)
Malam Kemuliaan atau disebut juga Lailatul Qadar merupakan sebuah momen dalam bulan suci Ramadhan. Rujukan awal guna memahaminya tentu saja dengan membaca al-Qur’an, dalam hal ini  Q.S. al-Qadar ayat 1 – 5 seperti tercantum di atas.
Para ahli Tafsir seperti Ibnu Hajar al-Asqalani yang dikutip HAMKA dalam  tafsirnya Al-Azhar menjelaskan bahwa malam itu dinamakan Lailatul Qadar karena keagungan nilainya dan keutamaannya di sisi Allah swt. Juga, karena pada saat itu ditentukan ajal, rizki, dan lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah: "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (Q.S. Ad-Dukhaan: 4). Beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, do'a dsb. sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan.

Allah pun memberitahukan keutamaannya yang lain, juga berkahnya yang melimpah dengan banyaknya malaikat yang turun di malam itu, termasuk Jibril AS. Mereka turun dengan membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yang merupakan ketentuan dan takdir Allah. Mereka turun dengan perintah dari Allah. Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dengan firman-Nya: "Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar" (Al-Qadar: 5)

Maksudnya, malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikit pun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat-termasuk malaikat Jibril mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah saw. menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut.
Beliau bersabda: "Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan
mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. " (Hadits Muttafaq'Alaih)

Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya). Maksud dari malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan. Adapun qiyamul lail di dalamnya yaitu menghidupkan malam tersebut dengan shalat tarawih, sholat tahajjud, membaca Al-Qur'anul Karim, dzikir, do'a, istighfar dan taubat kepada Allah Ta 'ala.

Misteriusnya Lailatul Qadar memberikan sebuah motivasi bagi umat Islam agar terus beribadah khususnya pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Tidak ada seorangpun yang bisa memastikan kapan Lailatul Qadar itu. Bahkan Nabi Muhammad saw sendiri hanya mampu memberikan rentang waktunya saja tanpa mampu menentukan kapan tepatnya malam itu.
Dengan demikian setiap orang diharapkan berusaha secara individu untuk meraih yang terbaik selama Ramadhan. Itu sebabnya, hanya mereka yang bersungguh-sungguh yang mampu mendapatkan ketenangan beribadah apalagi pada malam-malam terakhir di bulan Ramadhan. Wallahu a’lam bishawab

Rabu, 30 April 2014

ROHIS SMA NEGERI 9 MANADO MENEBAR KASIH


Islam sebagai agama yang universal, telah memberikan nilai kehidupan yang mengagumkan bagi umat manusia. Keteladanan yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. dalam seluruh aspek kehidupan beliau mampu menciptakan sebuah peradaban besar yang akan terus memberikan kontribusinya hingga akhir zaman.
Salah satu contoh teladan beliau adalah kepedulian terhadap sesama, khususnya kaum dhuafa –yang lemah-, fakir, dan miskin. Beliau juga peduli dengan lingkungan dan alam sekitar. Begitu banyak ayat al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk memperhatikan sesama, saling membantu, tolong menolong dan peduli dengan lingkungan, misalnya Q.S. at-Taubah ayat 60 dan al-Isra ayat 26-27.  Nilai-nilai inilah yang harus terus dikembangkan dalam konteks kekinian agar menjadi sebuah sikap mental yang baik terutama bagi generasi muda. Kepekaan ini perlu dilatih dan dipertajam melalui keterlibatan langsung di masyarakat agar kelak generasi bangsa ini mampu menjadi pemimpinpemimpin bangsa yang peduli dan peka dengan kondisi sosial yang ada.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pembina Rohis Supriadi S.Ag., M.Pd.I dalam Pembukaan kegiatan Bakti Sosial dan Dakwah Wisata 1435 H/2014 M. Rohis SMA Negeri 9 Manado yang bertempat di Desa Likupang II Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara pada hari Sabtu, 26 April 2014. Menurut Ketua Rohis, Reynaldy Makalalag, yang didampingi Ketua Panitia Ilham Alif, acara yang mengambil tema “Menjalin ukhuwah dan solidaritas sosial” itu dijadwalkan berlangsung hingga hari Ahad, 27 April 2014 dengan dua agenda penting yaitu Khitanan Massal dan Pembagian Sembako kepada masyarakat yang kurang mampu. Adapun tujuan dari kegiatan yang menjadi agenda tahunan Rohis SMA Negeri 9 Manado itu adalah untuk mempererat silaturahmi dan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah insaniyah, meningkatkan pemahaman nilai-nilai dakwah Islam bagi peserta didik dan menambah wawasan serta meningkatkan solidaritas sosial  terhadap sesama manusia.
Kepala SMA Negeri 9 Manado Dra. Nelly Roosje Tani yang melepas rombongan sebelum menuju lokasi menyatakan pihak sekolah senantiasa mendukungan penuh kegiatan-kegiatan positif seperti yang digagas Rohis. Baginya, antara kegiatan ekstrakurikuler dan Proses Kegiatan Pembelajaran sama pentingnya sehingga ke depannya perlu dibijaksanai agar kegiatan ini tidak semata-mata menjadi rutinitas dan tidak bermakna.
Sementara itu, Sarjan Maramis yang mewakili pemerintah setempat mengungkapkan rasa syukurnya atas kegiatan yang diselenggarakan tersebut. Menurutnya, kepedulian terhadap sesama yang digagas Rohis SMA Negeri 9 Manado tersebut perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak, khususnya mereka yang mampu dan peduli dengan sesama. Dalam kesempatan itu telah dilakukan khitanan terhadap 24 anak dan pembagian 100 paket sembako terhadap masyarakat kurang mampu.

Kamis, 17 April 2014

JUMAT AGUNG DAN KEAGUNGAN JUMAT

Setiap tahun, umat Kristen memperingati Hari Kematian Yesus Kristus yang disebut Jumat Agung dan Hari Kebangkitan Yesus Kristus yang disebut Paskah. Bagi umat Kristen, Peringatan Jumat Agung sangat berarti karena dengan peristiwa itu menjadi awal keselamatan. Bahkan sebagian umat Kristen menilai Jumat Agung dan Paskah justru lebih berarti dari Natal.
Disaat umat Kristen akan memasuki Jumat Agung, dengan segala maknanya, di satu sisi sesungguhnya bagi umat Islam, Hari Jumat itu sendiri juga sangat penuh makna dan sarat dengan keutamaan. Hal ini seringkali terabaikan sehingga kedatangan Jumat tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Berikut diantara keutamaan hari Jumat:
Pertama, hari yang paling utama di dunia dan penghulu dari hari-hari. Hal ini bisa dilihat dari penjelasan Rasulullah Saw., dalam hadisnya: Dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah Saw., bersabda: "Sebaik-baik hari adalah hari Jum'at, pada hari itu Nabi Adam As., diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke surga, pada hari itu dia dikeluarkan dari surga, dan hari kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum'at.” (HR. Muslim no. 854, dan yang lainnya). Dalam "al-Musnad" hadits dari Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Saw., Beliau bersabda: "Penghulunya hari adalah hari Jum'at, ia adalah hari yang paling utama disisi Allah Swt., lebih agung disisi Allah Swt., dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, pada hari Jum'at tersebut terdapat lima keistimewaan: Nabi Adam As., diciptakan, Nabi Adam As.,diturunkan ke dunia, Nabi Adam As., diwafatkan, Pada hari itu terdapat suatu waktu, tidaklah seorang hamba meminta kepada Allah pada saat tersebut melainkan pasti akan dikabulkan oleh Allah Swt., selama yang diminta bukan yang haram, Pada hari itu akan terjadi kiamat, Tidak ada satupun dari malaikat, bumi, angin, laut, gunung maupun pepohonan kecuali mereka takut pada hari Jum'at.” (HR. Ahmad dalam al-musnad, 3/430, Ibnu Majah 1084, sedangkan syekh al-Albany mendha'ifkannya dalam Dha'iiful jaami', 3317).
Kedua, Waktu yang mustajab untuk berdo’a. Rasulullah Saw., sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya. Hari ini senantiasa penuh dengan ibadah. Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah Saw., menyebut hari Jum’at lalu beliau Rasulullah Saw., bersabda, “Di hari jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu. (HR. Bukhari Muslim).
Ketiga, dosa-dosanya diampuni antara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya. Dari Salman Al-Farisi ra., mengatakan bahwa Nabi Saw., bersabda: “Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari)
Begitu pentingnya hari Jumat sehingga Allah Swt., mengabadikan Jumat sebagai salah satu nama surat dalam Alquran, surah al-Jumu’ah. Salah satu penjelasan di dalamnya adalah menyangkut perintah salat Jumat dan meninggalkan jual beli. ”Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al Jumu’ah, 62:9). Lebih jauh lagi, jual beli dimaknai dengan aktifitas secara umum. Artinya, apapun aktifitas yang kita lakukan, ketika azan memanggil untuk salat Jumat maka selayaknya dan seharusnya ditinggalkan. Pengecualian yang diberikan hanyalah kepada empat golongan sebagaimana hadis Nabi Saw., "Shalat Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjama’ah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit." (HR. Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih) Jadi tidak ada alasan lain bagi seorang muslim untuk meninggalkan salat Jumat.
Puncak dari hari Jumat itu sesungguhnya ada pada pelaksanaan salat Jumat. Sehingga pada saat khatib sedang berkhutbah, wajib untuk mendengarkan dan tidak boleh berkata-kata sekalipun hanya mengatakan ”diamlah”. Tidak juga menghindari berbicara dengan tidur pada saat khutbah berlangsung.  Betapa banyak fadilah atau keutamaan yang digambarkan pada hari Jumat. Itu sebabnya merugilah orang yang tidak mampu memanfaatkan dengan baik momen jumat yang hanya datang seminggu sekali. Sebab begitu terlewati, belum tentu jumat berikutnya akan ditemui lagi. Jumat akan datang setiap minggunya, namun apakah kita selaku hamba akan mampu untuk bertemu dengannya? Wallaahu a’lam.:) Makassar, 06 April 2009.

Kamis, 13 Februari 2014

TOLAK PERAYAAN VALENTINE DAY

Dear all, seperti yang kita ketahui, bulan Februari dikenal dengan bulan "deklarasi cinta". Sangat membooming, bahkan seluruh penduduk di berbagai belahan dunia turut merayakannya, dari yang muda, dewasa bahkan kaum tua sekalipun turut serta. Bunga mawar, coklat, boneka, dan berbagai atribut bernuansa pink menjadi ciri khasnya. Namun banyak hal yang perlu kita telisik lebih jauh dari Valentine days, terutama bagi umat Islam. Bagaimana sejarahnya dan hukumnya bagi umat Islam yang turut merayakan. Berikut ini, kutipan penjelasan yang saya ambil di website dakwah

Valentine days, No Ways!!!


Boleh jadi tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi lainnya. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa 'kasih sayang', walau pun pada hakikatnya bukan kasih sayang melainkan hari 'making love'.

Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasan valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.

Sejarah Valentine
Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah dan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno.

Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.

Katakanlah, "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.

Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.

Valentine Berasal dari Budaya Syirik.
Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.

Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.

Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.

Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.

Semangat valentine adalah Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.

Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.

Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?

Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.

Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)

http://khutbahjumatideologis.blogspot.in/2011/02/jumat-2-112011-tolak-perayaan-valentin.html