Rasulullah sebagai teladan umat
manusia dalam segala aspeknya telah memberikan contoh kehidupan. Sifat sidiq,
amanah, tablig, dan fatonah baginda Nabi hendaknya menjadi pedoman bagi umat
dalam mengisi kehidupannya. Memang sekarang ini menjadi orang baik dan
benar bukanlah hal yang mudah. Tetapi juga bukan hal yang susah, jika kita
memang telah meneguhkan hati merambah kebaikan. Kisah berikut barangkali bisa
memotivasi kita meneladani sifat al-amin-nya Rasulullah saw.
Alkisah,
Tersebutlah seorang pemuda perantau yang papa. Ia tinggalkan pekarangan rumah
dan kebunnya di desa menuju sebuah kota yang menjadi pengharapan bagi para
pendatang dari berbagai penjuru desa. Selayaknya perantau, pemuda ini tidak
banyak membawa bekal kecuali keluguan dan kesederhanaan dan sedikit kemampuan
mengaji ala kadarnya. Jangankan tempat tinggal, uang saku pun telah habis
untuk ongkos perjalanan. Setelah sekian hari menggelandang, akhirnya ia
diperbolehkan menetap di salah satu kamar di bagian masjid dengan berbagai
macam tugas dan kewajiban. Adzan, bila waktu shalat tiba dan menyapu jika
kotoran bertebaran, juga menjadi tukang parkir jika kebetulan ada tamu jama’ah.
Hari berlalu
silih berganti, kadang hari terasa nyaman karena tersedia makanan, kadang kala
juga hari-hari menyedihkan tanpa apapun yang dapat dimakan, tidak juga uang
sekedar untuk membelinya. Maklumlah pada hari ini belum genap sebulan ia
tinggal di sana. Sehingga belum ada uang gaji dan juga belum banyak teman pula.
Terhitung sudah dua hari ini ia tidak makan, tiada apapun dapat mengisi perutnya.
Keinginan meminta-minta adalah pantangan baginya. Apalagi mengambil yang bukan
haknya. Meskipun ia menjaga kotak amal, tak pernah terbersitpun di hatinya
untuk menggunakan uang di dalamnya. Di hari ketiga kepayahan benar-benar
melanda. dia merasa bahwa hidupnya akan segera berakhir karena kelaparan. Ia
berfikir apa yang akan dilakukannya, bukankah saat seperti ini yang dinamakan
dharurat? kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri
sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya? Itulah pendapatnya
ketika rasa lapar mengalahkan logika berpikirnya.
Ia mulai
berpikir, rumah siapakah yang berada dibalik dinding masjid itu? Sepertinya
rumah itu besar dan kurang begitu ramai. Mungkin ada makanan di sana, sekedar
untuk menyambung hidup saja. ia bertekad tidak akan mengambil barang berharga.
Pokoknya hanya makanan saja. tembok pembatas di belakang masjid itu, tidaklah
terlalu tinggi. Tidak susah untuk seorang pemuda menaikinya. Hanya dengan
sedikit tenaga dorongan dan loncat, dapatlah ia melihat ruang belakang rumah
itu, yang kebetulan adalah dapur yang sepi tiada orangnya. Maka, pemuda itupun
mencoba melewati dinding dan meloncat di dalam dapur itu. Dengan hati berdebar
dan kaki gemetar. Ini pertama kali dia melakukan pencurian selama masa
hidupnya. Dengan hati yang terus berbisik ‘bagaimana bisa kau mencuri?
Sepanjang umurmu kau tak pernah lakukan itu? Sekarang ketika kau tinggal di
masjid, malah hendak melakukannya? Namun kaki itu terus melangkah dengan hukum
dharurat yang difahaminya. Hanya alasan inilah yang membuat tangannya
meraba sebuah roti bakar di atas meja lalu menguatkan giginya untuk sekedar
memotong di bagian ujungnya. Namun ketika selai coklat-strawbery melekat
dilidahnya, dan hendak meluncur melalui tenggorakan, pemuda itu teringat
kembali bahwa yang dilakukannya adalah pencurian dan sebuah kebodohan. Seolah
ia baru tersadarkan bagaimana bisa ia melakukan ini semua, bukankah ia seorang
penjaga masjid? Bukankah selama ini ia terbiasa menahan lapar? Kemudian
diletakkanlah roti pada tempatnya semula. Lalu ia meloncat tembok pembatas dan
kini telah berada di serambi masjid.
Sambil
terlentang, pikirannya mengawang-menerawang merekam kembali apa yang
telah dikerjakannya. Air matanya sedikit mengalir membasahi pipinya, namun perutnya
terus meronta meminta segera diisi dan badannya telah lemas terkulai. Iapun
kini berada di alam setengah sadar-setengah pingsan karena lapar. Lamat-lamat
telinganya menerima suara dari luar. Suara pengajian ibu-ibu mingguan yang
dipandu seorang kyai sesepuh masjid itu. Namun karena terlalu lapar dia tidak
dapat memahami apa yang dia dengar.
Ketika
pengajian itu usai, masjid telah kembali sunyi. Tinggal kyai dan seorang
perempuan jama’ahnya yang terlihat asyik berbincang. Sang pemuda tidak bisa
mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Karena posisinya yang terlalu jauh,
juga karena kesadarannya yang telah direnggut oleh rasa lapar yang mendaulat
perutnya. Namun ia tahu ketika kyai itu itu menebarkan mata menyapu segala
penjuru dan sudut-sudut masjid. Hingga pandangan itu tertumbuk pada
dirinya. Sesosok pemuda yang tidur terlentang di serambi sebelah kanan
masjid. Dengan isyarat tangan kyai itu memintanya untuk mendekat. Dengan
langkah yang berat, dengan sisa tenaga yang ada ia segarkan wajahnya yang telah
kuyu. Ia belalakkan matanya yang telah layu. Ia pendam jauh-jauh rasa lapar
yang menggelayuti perutnya.
'Apakah kamu
sudah menikah?' begitu Tanya kyai ketika ia telah mendekat. 'Belum,' jawabnya.
Kyai itu bertanya lagi, 'Apakah kau ingin menikah?'. Pemuda itu diam. Lalu kyai
itu mengulangi lagi pertanyaannya. Sebenarnya pemuda ini tidak begitu
konsentrasi menjawab pertanyaan sang kyai. Pikirannya hanya tertuju pada rasa
lapar dan cara menaklukkannya. Bisa jadi pemuda ini hanya menganggap pertanyaan
kyai itu sekedar basa-basi. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, 'Ya kyai,
demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan
menikah?. Kyai itu menjawab, 'Wanita ini telah ditinggal mati suaminya, dan dia
tidak memiliki sesiapa pun di dunia kecuali seorang paman yang sudah tua dan
miskin', kata kyai itu sambil melihat kerah perempuan yang sedang duduk di
sampingnya. Kyai itu melanjutkan pembicaraannya, 'wanita ini mengharapkan
seorang lelaki sebagai pendamping hidupnya, untuk menemaninya menjalani
kehidupan dan menjaga bila tetjadi sesuatu dengannya. Maukah kau menikah
dengannya? Pemuda itu menjawab 'Ya, lah kyai'. Kemudian kyai bertanya kepada
wanita itu, 'Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?', ia menjawab 'Ya'.
Maka kyai itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi kemudian melangsungkan
akad nikah dan membayarkan mahar untuk pemuda penjaga masjid itu.
Pernikahan
selesai, kemudian sang istri mengajak nya pulang ke rumahnya. Setelah keduanya
masuk ke dalam rumah dan mereka mulai berkomunikasi berakrab-akraban. Tampaklah
oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik.
Beberapa saat kemudian sang istri mengajak suaminya si penjaga masjid itu dan
memperkenalkannya dengan berbagai ruangan di dalam rumah itu. Ada ruang
keluarga, ada kamar tempat mereka tidur, ada kamar mandi, dan ada pula ruang
makan yang menyatu dengan dapur paling belakang. Ketika menatap dinding yang
melatari dapur itu, suami itu langsung menengadahkan mukanya ke atas mengawasi
batasan tembok dan ia merasa tidak asing dengan kondisi ruang ini. Iapun merasa
mengenal dinding itu. Lalu ia menemukan jawabnya bukankah di belakang tembok
pembatas ini adalah masjid yang didiaminya? Rupanya pemuda itu baru sadar bahwa
rumah itu adalah rumah yang tadi ia masuki.
Belum
selesai pertanyaan dalam pikiran itu, sang isteri datang menghampiri dan
bertanya, 'Kau ingin makan?' 'Ya' jawabnya. ‘Duduklah, kita akan makan bersama
di meja ini untuk kali pertama’. kata sang istri dengan nada romantisnya. Lalu
dia buka tutup maknan di atas meja. Saat melihat sepotong roti isi
coklat-strowbery yang telah cuil diujungnya, sang istri berkata dengan
heran: 'lho kok roti ini cuil ujungnya? Siapa yang mengigitnya? Bukankah kucing
tak doyan roti?. Maka pemuda yang kini telah menjadi suami itu menangis dan
menceritakan segala kisahnya. Lalu sang isterinya berkata, 'Ini adalah
buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan roti yang
haram itu, lalu Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam
keadaan halal. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka
akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu.
Demikian
nasib pemuda itu. Ia berhasil mengalahkan keburukan dengan kebesaran jiwanya.
Dengan keyakinannya. Demikian juga dengan kita. Yakinlah, bahwa ketika hendak
melakukan sebuah keburukan, hati kecil kita selalu berontak, minimal
mempertanyakannya. Bukankah yang akan aku kerjakan ini sebuah keburukan?
Bukankah ini sebuah kejahatan?. Namun sayang sekali, seringkali kita
mengalahkan dan mengabaikan bisikan-bisikan hati kecil itu. Yang berarti pula
kita kita menghianati Allah swt dan Rasul-Nya. dalam Q.S. al-Anfal/8 ayat 27:
$pkš‰r'¯»tƒ z`ƒÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qçRqèƒrB ©!$# tAqß™§9$#ur (#þqçRqèƒrBur öNä3ÏG»oY»tBr& öNçFRr&ur tbqßJn=÷ès? ÇËÐÈ
Terjemahnya:
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui
Sekarang
kita tahu betapa beratnya menjaga amanah itu. Menjaga amanah terberat adalah
menjaga amanah Allah swt yang dititipkan kepada kita berupa baik harta,
keluarga, negara dan jiwa kita sendiri. Namun demikian Rasulullah saw adalah
penjaga amanah tersukses di sepanjang sejarah kehidupan manusia yang mendapatkan
julukan al-amiin.
Mudah-mudahan, mereka yang dipercaya memegang amanah rakyat Indonesia, mampu menjaganya dengan baik. Semoga kita senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah swt
untuk berteguh hati menjaga amanah dari-Nya. Amien