Rabu, 22 Juli 2020

HORMATI DAN PATUHI ORANG TUA





MATERI KELAS XI

Hormat dan patuh kepada orang tua adalah kewajiban setiap anak. Dalam agama Islam mengajarkan berbakti kepada orang tua adalah hal yang sangat penting. Istilah lain berbakti kepada orang tua adalah bir al-walidain. Maksud berbakti, menurut al-Atsari adalah menaati kedua orang tua dengan melakukan semua apa yang mereka perintahkan selama hal tersebut tidak bermaksiat kepada Allah Swt.
Bukti nyata perhatian Islam terhadap perintah berbakti kepada orang tua, setidaknya ada empat ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang perintah berbakti kepada orang tua disandingkan dengan larangan menyekutukan Allah Swt., di antaranya dalam Q.S. al-Isra/17: 23-24.



Terjemah
23.  Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.
24.  Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

Dari Q.S. al-Isra ayat 23, ada kata qadha, kalau dilihat dari beberap tafsir mempunyai makna yang berbeda. Misalnya, Ibnu Katsir mengartikan dengan mewasiatkan, sedangkan al-Qurtuby mengartikan dengan memerintahkan, menetapkan, dan mewajibkan.
Secara umum, ayat di atas menegaskan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua. Apalagi melihat redaksi ayat tersebut, sebelum perintah berbuat baik kepada orang tua, dilarang menyekutukan Allah Swt. Asy-Syaukani dalam hal ini menjelaskan, “Allah memerintahkan untuk berbuat baik dan beribadah kepada-Nya. Ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya).”
Bagaimana bentuk berbuat baik kepada orang tua? Setidaknya ada lima hal yang dapat kita ambil pelajaran dari Q.S. al-Isra/17:23-24, yaitu, sebagai berikut:

a. Jangan engkau mengatakan kepada keduanya uf
Dalam Q.S. al-Isra ayat 23 di atas, seorang anak dilarang mengatakan uf. Menurut Quraisy Syihab, bukan karena kata itu, tetapi kandungan kata itu oleh masyarakat Arab, hal tersebut dianggap penghinaan. Sedangkan menurut Imam Ja’far Shadiq mengatakan jika ada perkataan yang lebih ringan dari “ah”, maka Allah akan menyebutkan kata itu. Dalam Al-Qur’an dan terjemahnya yang dikeluarkan Kementerian Agama, kata uf diartikan dengan ah.
Mengapa tidak boleh? karena kata tersebut di masyarakat dinilai sebagai ucapan kekesalan dan penghinaan. Pertanyaannya, berkata ah saja tidak boleh, apalagi kata yang lebih panjang yang menyakiti hati orang tua?

b. Jangan membentak keduanya (walaa tanharhumaa)
Ayat ini melarang anak membentak kepada orang tua, baik berupa lisan maupun sikap. Dengan membentak tentunya orang tua akan sakit hati, padahal orang tua yang merawat, membesarkan,
dan mendidik anaknya.

c. Bertutur kata dengan perkataan yang baik (waqul lahumaa qaulan karima)
Ini adalah perintah anak kepada orang tua agar bertutur kata dengan ucapan yang baik. Jangan sampai melakukan yang diungkap sebelumnya, yaitu berkata ah atau membentaknya.

d. Merendahkan diri kepada orang tua dengan penuh kasih saying (wakhfidz lahumaa janaaha al-dzulli min ar-rahmah)
Meskipun orang tuanya secara pendidikan lebih rendah, anak tidak boleh merasa sombong. Dengan kata lain, kita dilarang merendahkan diri kepada orang tua baik lisan maupun tindakan.

e. Selalu mendoakan orang tua
Sebagai anak shaleh dan shalehah, tentunya kita selalu mendoakan orang tua. Bagi yang masih hidup, didoakan semoga selalu diberi kesehatan, kemudahan dalam mencari rezeki, dan selalu dalam bimbingan Allah Swt. Sedangkan bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia, didoakan, semoga diampuni segala dosanya dan diberi kenikmatan di alam barzakh.
Terkait perintah berbuat baik kepada orang tua, tidak hanya dalam Al-Qur’an, tetapi juga ada di hadits Nabi Muhammad Saw. diantaranya:

Dari Abdullah bin Amr, bahwa Rasulullah bersabda: Ridha Allah terletak kepada ridha orang tua. Murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua (HR. Tirmidzi).

Dari hadits di atas menegaskan agar anak harus berbuat baik kepada orang tua. Jangan sampai ada anak durhaka dengan orang tua. Apalagi dalam hadits ini ada hubungannya dengan Allah Swt. Makanya, seorang anak harus berbakti kepada orang tua.

Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah Saw. “Amalan apakah yang dicintai oleh Allah Swt.” Beliau menjawab, “Salat pada waktunya.” Kemudian apa? Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.”, kemudian apa? Beliau menjawab, “Jihad _ Sabilillah.” (HR. Bukhari)

Dari hadits di atas menjelaskan bahwa posisi berbakti kepada orang tua menempati ranking kedua amalan yang dicintai Allah Swt. Ranking pertama adalah salat pada waktunya. Yang menarik amalan jihad _ sabililah berada posisi setelah birrul walidain.

Manfaat Hormat dan Patuh kepada Orang Tua
Berikut di antara manfaat hormat dan patuh kepada orang tua.
a. Berbuat baik kepada orang tua merupakan amalan yang utama. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an, perintah berbuat baik disandingkan dengan larangan menyekutukan Allah Swt. Bahkan
dalam hadits Nabi Muhammad Saw., berbuat baik kepada orang tua termasuk amalan utama yang dicintai Allah Swt., setelah amalan shalat pada waktunya;
b. Berbuat baik kepada orang tua mengantarkan kita mendapatkan ridha dari Allah Swt. Hal ini ditegaskan dalam hadits Nabi Muhammad Saw., bahwa ridha Allah terletak pada ridha orang tua;
c. Berbuat baik kepada orang tua dapat menghindari dari murka Allah Swt. karena murka Allah terletak pada murka orang tua sebagaimana dalam hadits yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya;
d. Salah satu sebab diampuni dosanya. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad Saw. Diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a. bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya? Maka Rasulullah bersabda: “Apakah ibumu masih hidup? berkata dia: “Tidak.” Bersabda Rasullah Saw: “Kalau bibimu masih ada?” dia berkata: “Ya”, bersabda Rasulullah: “Berbuatlah baiklah kepadanya.”
(H.R. Tirmidzi)
e. Berbuat baik kepada orang tua menjadi sebab masuknya ke surga. Hal ini se suai hadits Nabi Muhammad Saw. “Dari Mu’awiyah bin Jahimah r.a. Bahwasanya Jahimah datang kepada Rasul Saw. kemudian berkata: “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada Anda. Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Apakah kamu masih memiliki Ibu?” Berkata dia: “Ya”. Bersabda Rasulullah Saw.: “Surga itu di bawah telapak kakinya.” (H.R. an-Nasai)

2. Hormati dan Patuhi Guru
Guru mempunyai dua tugas yang mulia, yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan dan membentuk karakter peserta didik. Dalam kajian Islam, guru disebut dengan murabbi, mu’alim, dan mu’addib. Chabib Thoha memberikan pengertian murabbi adalah orang-orang yang memiliki sifat-sifat rabbani yaitu nama bagi orang-orang yang bijaksana dan terpelajar dalam bidang pengetahuan. Sedangkan mu’alim bersifat pemberian atau penyampaian pengertian, pengetahuan atau keterampilan. Sementara mua’adib adalah memberi adab dan mendidik peserta didik. Antara ketiga hal tersebut, seharusnya menjadi satu kesatuan yang harus dimiliki guru.

a. Manfaat Hormat dan Patuh Kepada Guru
Di antara manfaat hormat dan patuh kepada guru adalah.
1) Ilmu yang telah diterima akan lebih bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
2) Memudahkan dalam memahami materi pembelajaran yang sedang dipelajari. Karena dengan hormat dan patuh kepadanya, maka guru dengan senang hati menjelaskan materi pembelajaran.
3) Guru akan selalu mendoakan peserta didik dalam setiap doanya
agar diampuni segala dosanya dan diberi kemudahan dalam menjalankan amanah.

b. Cara Berbakti kepada Orang Tua
Di bawah ini adalah cara berbakti kepada orang tua. Dalam berbakti kepada orang tua dibagi menjadi dua, yaitu orang tua yang masih hidup dan orang tua yang sudah meninggal dunia. Di bawah ini adalah penjelasannya:

1) Di antara cara berbakti kepada orang tua yang masih hidup dalam kehidupan sehari-hari adalah:
a) sebelum berangkat sekolah bersalaman dengan orang tua, mohon doa restunya;
b) bertutur kata yang sopan dengan kedua orang tua baik di rumah maupun di luar rumah;
c) bersikap santun kepada orang tua baik di rumah maupun di luar rumah;
d) membantu kedua orang tua di rumah, misalnya: menyapu;
e) melaksanakan amanah orang tua untuk belajar dengan giat;
f ) mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam aspek kehidupan, tentunya dengan catatan selama keinginan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam;
g) mendoakan kedua orang tua, minimal setelah salat wajib;
h) merendahkan diri di hadapan orang tua dengan penuh kasih sayang;
i) mendahulukan berbakti kepada ibu setelah itu baru ayah.

2) Di antara cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal dunia adalah:
a) merawat jenazahnya dengan baik, yaitu memandikan, mengafani, menshalati, dan menguburkan;
b) mendoakan orang tua, semoga diampuni segala dosanya;
c) menjaga nama baik orang tua dengan selalu berbuat baik;
d) melaksanakan amanah orang tua untuk belajar yang sungguh-sungguh;
e) menjalin silaturrahim yang sudah dijalin orang tua waktu masih hidup;
f) menunaikan janji kedua orang tua, selagi tidak bertentangan dengan ajaran Islam;

c. Cara Berbakti kepada Guru
Dalam berbakti kepada guru dibedakan menjadi dua, yaitu pertama, guru yang sekarang masih mengajar di sekolahmu dankedua, guru yang pernah mengajarmu pada jenjang sebelumnya.
Dari keduanya akan dijelaskan sebagai berikut.
1) Di antara cara berbakti kepada guru yang masih mengajar di sekolahmu, adalah:
a) saat bertemu di sekolah ataupun di luar sekolah, menyampaikan senyum, salam, dan sapa;
b) membantu menyiapkan persiapan pembelajaran di kelas, misalnya menghapus tulisan di papan tulis;
c) memperhatikan guru saat menjelaskan materi pembelajaran;
d) apabila bertanya, disampaikan dengan cara yang santun;
e) melaksanakan tugas pelajaran dengan sebaik-baiknya.
2) Di antara cara berbakti kepada guru yang pernah mengajar pada jenjang sebelumnya adalah:
a) apabila bertemu menyampaikan senyum, salam, dan sapa;
b) bertutur kata dan bersikap sopan dan santun;
c) menjalin silaturrahim;
d) mendoakannya semoga selalu diberi kesehatan, kemudahan, dan kesuksesan;
e) melaksanakan amanah yang diberikan untuk menjadi anak yang shaleh dan shalehah.


TUGAS 1
1.    Salinlah QS. Al-Isra ayat 23-24 lengkap dengan terjemahannya
2.    Bacalah ayat tersebut dengan tartil lalu videokan.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Islam SMA SMK Kelas XI, Kementerian Agama R.I., 2019


Selasa, 21 Juli 2020

SALING MENASEHATI DAN BERBUAT BAIK







ASBABUN NUZUL
Siapa umat Islam yang tidak tahu seorang pria bernama Luqman? Pastinya semua umat Islam tahu. Ya, Luqman adalah seorang pria yang namanya diabadikan oleh Allah dalam al-Qur’an. Tepatnya dalam surat ke 31, Surat Luqman. Banyak ulama yang meriwayatkan tentang dirinya. Ada beberapa ulama yang mengatakan bahwa dia seorang nabi (tetapi bukan rasul), sehingga memanggilnya dengan Luqman a.s. (‘alaihissalam). Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Luqman adalah seorang penggembala, yang Allah karuniakan kepadanya akhlaq dan kebaikan hati sehingga namanya harum dalam al-Qur’an. Pendapat yang paling banyak diterima adalah yang kedua, yaitu Luqman adalah seorang manusia dapata, bukan nabi atau rasul, tetapi memiliki hati dan akhlaq yang baik.
Diriwayatkan, Luqman adalah seorang penggembala yang hidup selama 1000 tahun. Sehingga konon dia masih menjumpai masa di mana Nabi Daud a.s. berkuasa. Luqman sendiri diriwayatkan masih sedarah dengan Nabi Ayub a.s. dari keturunan Nabi Ibrahim a.s. Wallahu’alam bisshawab. Siapa pun Luqman, kita percaya bahwa ketika Allah mengharumkan nama dan nasehatnya dalam al-Qur’an, dia adalah seorang alim yang akhlaknya sungguh baik dan luar biasa.
Suatu hari, Luqman beserta anak lelakinya dalam perjalanan menuju ke kota. Luqman menaiki keledainya, sedang si anak berjalan di sebelahnya. Orang-orang memperbincangkannya, bagaimana bisa seorang ayah tega naik keledai, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan. Lalu setelah mendengarnya, Luqman turun dan menaikkan anaknya ke keledai, sedangkan dia berjalan di sebelahnya. Namun, orang-orang yang melihat kembali memperbincangkan mereka, bagaimana bisa seorang anak tega membiarkan ayahnya yang telah renta berjalan, sedangkan dia naik keledainya. Lalu, setelah mendengarnya, Luqman ikut naik ke atas keledai bersama anaknya, namun lagi-lagi orang memperbincangkan mereka.
Orang-orang berkata, bagaimana bisa ada ayah dan anak yang tega menaiki keledai kecil sekaligus, kasihan sekali keledainya. Luqman yang mendengar perbincangan tersebut lalu mengajak anaknya turun dan mereka berjalan di sebelah keledainya. Namun, lagi-lagi orang kembali memperbincangkan mereka. Bagaimana ada seorang ayah dan anak bodoh yang berjalan kaki begitu saja, sedangkan mereka memiliki keledai yang bisa dinaiki. Luqman kemudian diam saja sampai di kota.
Sesampainya di kota, Luqman mendudukkan anak lelakinya dan memberinya nasehat. Bahwasanya, apapun perkataan manusia adalah perkataan semata. Kita tak perlu memusingkan apa perkataan mereka, karena kebenaran hanyalah milik Allah semata. Di antara nasehat yang disampaikan Luqman kepada putranya adalah (a) jangan sekali-kali
menyekutukan Allah sebab perbuatan syirik merupakan dosa besar yang tak terampuni; (b) bersikap taat dan berbuat baik kepada kedua orang tua yang memiliki andil besar dalam kelangsungan hidup setiap anak manusia.

Tafsir Q.S. Luqman/31: 13-14
Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa hendaknya kita saling menasihati. Apabila di antara kita ada yang lengah dan akan berbuat kemaksiatan atau kejahatan atau pun kemusyrikan atau yang lainnya, kita berkewajiban mengingatkannya.
Dalam hadis ditegaskan, jika kita melihat suatu kemungkaran maka kita diperintahkan untuk mengingatkannya dengan tangan atau kekuasaaan, jika tidak mampu, maka dengan menggunakan lisan, dan jika dengan lisan juga tidak mampu, hendaknya dengan mendoakannya agar tidak jadi melakukan kemaksiatan atau kemungkaran.

Perilaku saling Menasehati dan Berbuat Baik dalam Kehidupan
Agama Islam mengajarkan supaya pemeluknya saling menasehati dan berbuat baik terhadap siapa saja. Bahkan kepada makhluk lain pun harus berbuat baik karena saling menasihati dan berbuat baik itu banyak manfaat dan hikmahnya. Di antara manfaat dan hikmat disyariatkan saling menasihati dalam kebaikan itu adalah sebagai berikut.
1. Mempererat hubungan antara sesama
Nasihat menasihat antara sesama itu dapat menumbuhkan rasa kebersamaan sehingga dapat mempererat hubungan antara satu
dengan yang lainnya.
2. Tergolong orang yang tidak rugi dalam hidupnya.Orang yang saling menasihat dalam kebaikan itu tidak akan rugi dalam hidupnya. Hal ini dijelaskan dalam Surah al-‘Asr.
3. Selalu terkontrol
Akan teringat jika akan berbuat kemaksiatan, sehingga tidak jadi berbuat kemaksiatan, karena diingatkan oleh temannya. Akan memperoleh pahala dari Allah Swt, karena nasihat
menasihati itu melaksanakan perintah Allah Swt. Sebagaimana diamanahkan dalam surah al-‘Asr ayat 1-3.

Hikmah dan Manfaat Saling Menasehati
Dalam al-Qur’an surah al-‘Asr, Allah Swt. menjelaskan kepada kita tentang ciri orang beriman, yaitu orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Artinya, setiap muslim beriman hendaknya berupaya semaksimal mungkin untuk saling mengajak kepada kebaikan, mengajak kepada hal yang akan mendekatkan kepada Allah Swt. dan, melarang dari perbuatan yang tidak disukai Allah Swt.
Salah satu hikmah mengapa kita harus saling menasihati adalah karena setiap orang mendambakan keselamatan hidup. Keselamatan dari kerusakan dari hal-hal yang membahayakan dirinya, lahir atau batin. Harus ada yang memberitahukan kepada kepada kita tentang hal-hal yang tidak kita ketahui tersebut. Pemberitahuan itulah yang  menjadi sebuah nasihat, masukan, atau kritikan. Sungguh sangat penting sebuah nasihat dalam kehidupan agar kita tahu kekurangan kita dan segera memperbaikinya.
Sayangnya, di antara kita masih belum siap menerima kritikan atau nasihat dari orang lain. Terlebih jika orang yang memberi nasehat itu kita anggap lebih rendah dari kita, sehingga langkah awal kita untuk mengamalkan ayat di atas adalah berusaha menerima kritikan atau saran dari siapa pun tentang diri kita tanpa melihat dari siapa yang mengeluarkan nasehat tersebut.
Kita harus selalu bahagia ketika ada yang memberikan saran kepada kita. Ibarat cermin kita selalu ingin tampak rapi di depan cermin. Jika ada yang berantakan tanpa segan kita membetulkannya. Kita tidak kesal dengan cermin yang menampilkan bayangan kita yang berantakan.
Justru kita tetap merapihkan bagian yang kurang bagus. Begitulah orang yang selalu senang menerima kritikan dari orang lain. Ia akan berterima kasih, bukannya marah atau kesal. Yang ia lakukan selanjutnya adalah segera memperbaiki kekurangan yang disebutkan itu, seperti saat ia lantas merapikan dirinya di depan cermin.
Seandainya setiap orang mampu bersikap seperti ini, yaitu senang menerima kritikan dan segera memperbaikinya, tentu setiap akhlak, perilaku kita dapat terjaga. Begitu ada yang salah dengan sikap kita, orang yang lain sigap memberitahukannya. Mudah-mudahan suatu saat kita memiliki lingkungan seperti ini. Inilah hidup jika saling menasehati,
Insya Allah Swt.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XII, Kementerian Agama R.I, 2019. 


TUGAS:
1. Salinlah kembali Q.S. Luqman ayat 13-14 lengkap dengan terjemahannya
2. Bacalah Q.S. Lukman ayat 13-14 tersebut dan videokan

LINGKUP MATERI ESENSIAL PAI SMA SMK DALAM PJJ








Lingkup Materi Esensial Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
dalam Pembelajaran Jarak Jauh
Jenjang SMA/SMK


                                 

    KELAS X SEMESTER 1

    1.   Indahnya Persaudaraan dan Perdamaian Q.S. Al-Hujurat(49): 10 dan 12.
2.   Mengenal Allah Swt, melalui Asmaul Husna.
3.   Berbusana sesuai dengan syariat Islam.
4.   Jujur Wujud Keimanan
5.   Sumber Hukum Islam
6.   Meneladani Dakwah Rasullullah Saw periode Makkah

    KELAS X SEMESTER 2

    1.   Hindari Zina dan Pergaulan Bebas  Q.S. Al-Israa(17):32 dan Q.S. An-Nur(42):2
2.   Beriman kepada Malaikat
3.   Haji, Zakat dan Wakaf wujud kepedulian sosial
4.   Bersemangat menuntut ilmu, mengamalkan dan menyebarkankan.
5.   Meneladani Dakwah Rasulullah Saw. Periode Madinah

     KELAS XI SEMESTER 1

    1.   Menghormati orang tua dan guru Q.S. Al-Israa(17):23
2.   Iman kepada Kitab Allah.
3.   Berani menegakkan Kebenaran dan Kejujuran.
4.   Pengurusan Jenazah sesuai dengan syari’at Islam.
5.   Menjalin kebersamaan dengan saling menasehati.
6.   Perkembangan Islam pada Masa Kejayaan.

     KELAS XI SEMESTER 2

     1.   Indahnya Toleransi dan bahaya kekerasan Q.S. Yunus(10): 40-41, Q.S. Al-  Maidah(5):32
2.   Taat, berkompetisi dalam kebaikan dan etos kerja.
3.   Iman Kepada Rasul Allah
4.   Praktik Ekonomi dalam Islam.
5.   Perkembangan Islam pada masa modern

     KELAS XII SEMESTER 1

     1.   Saling menasehati dalam kebaikan Q.S. Luqman(31):13-14
2.   Iman Kepada Hari akhir
3.   Sikap Optimis wujud iman kepada Qadha dan Qadar.
4.   Berpikir Kritis
5.   Menciptakan Kedamian dengan Musyawarah

     KELAS XII SEMESTER 2

     1.   Ihsan ciri pribadi Islami
2.   Indahnya membangun keluarga sesuai dengan ajaran Islam.
3.   Ketentuan Waris dalam Islam
4.   Perkembangan Islam di Indonesia
5.   Perkembangan Islam di Dunia
  


REVIEW 43 TAHUN MONUMEN KEMBAR MTQ 1977: DARI ALUMNI UNTUK UMAT





Masyarakat Sulawesi Utara tentu memiliki kebanggaan tersendiri bahwa nilai-nilai toleransi yang kini dipegang telah lama dipraktekkan di daerah Nyiur Melambai. Nilai ini menjadi sebuah cara pandang dalam bermasyarakat yang siap menerima perbedaan dalam bentuk apapun. Betapa tidak, dengan persentase muslim yang tidak begitu banyak, Kota Manado mampu menjadi tuan rumah yang baik bagi pelaksanaan sebuah even Nasional dan bergengsi bertajuk Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke X tahun 1977. Acara yang dibuka langsung Presiden R.I Soeharto ketika itu betul-betul mampu menyedot perhatian khalayak dan memunculkan beragam apresiasi positif bagi Kota Manado khususnya dan provinsi Sulawesi Utara  pada umumnya.
Sesuai arahan Presiden Soeharto dalam sambutannya yang menekankan pada aspek kerjasama antar umat dalam mencapai kehidupan religius berdasarkan Pancasila, pelaksanaan MTQ ke X tahun 1977 menjadi sebuah tonggak sejarah bagi terhindarnya eksklusifisme beragama. Guna mengenang momentum terbaik itu, didirikanlah Islamic Center dan Pesantren Lembaga Pendidikan Islam-Pondok Karya Pembangunan sebagai sebuah “Monumen Kembar” yang diresmikan pada 1978. Sejak saat itu, mulailah sebuah proses panjang kaderisasi generasi Islam yang moderat dan mengedepankan nilai-nilai toleransi yang tinggi di berbagai penjuru bumi ini.
Pola pendidikan pesantren dengan Kiay sebagai sentralnya ketika itu pada akhirnya mampu melahirkan generasi-generasi yang tangguh dan mampu menghadapi tantangan zamannya. Penerapan kurikulum yang tidak semata mengunggulkan sisi kognitif semata kemudian menjadikan 28 orang generasi “assabiqunal awwalun” tetap survive menjalani kehidupan pesantren yang “keras”. Kurikulum yang juga menitik beratkan pada life skill atau kecakapan hidup menjadikan pesantren ini semakin dikenal sebagai lembaga pendidikan untuk menempa manusia-manusia unggul dan mampu menghadapi tantangan zamannya.
Empat dekade bukanlah waktu yang singkat untuk berproses dan bersimbiosis mutualisma dengan lingkungan. Ribuan alumni yang tangguh dan kapabel itu bisa ditemui pada berbagai instansi pemerintah maupun swasta dengan berbagai profesi. Baik sipil maupun militer, mulai dari RT, Kepala Lingkungan, Lurah, Kepala Desa, Camat hingga calon Wakil Bupati. Jangan ditanya berapa banyak alumni yang mengabdi di masjid menjadi Imam, Pegawai Syar’i, Badan Takmir Masjid, Kepala KUA hingga Pengacara, Hakim dan Jaksa serta Ketua Pengadilan.  Entah berapa banyak pula alumni yang berkecimpung dalam dunia pendidikan sebagai penulis, peneliti, guru, dosen, dan Widya Iswara. Bahkan era pandemic covid-19 pun mencatat ada alumni pesantren LPI-PKP di garda terdepan sebagai petugas medis. Profesi boleh saja berbeda namun prinsip utama yang dipegang untuk menerima berbagai perbedaan sebagai suatu anugerah Ilahi tetap menjadi nilai dasar dalam kehidupan bermasyarakat.
LPI-PKP menjadi satu-satunya pesantren di Sulawesi Utara yang masih istiqamah atau konsisten dengan “santri mukim”. Disaat pesantren lain mulai melonggarkan aturan mukim bagi santri, pesantren ini tetap mempertahankan ciri khas pesantrennya dan tidak bisa ditawar-tawar. Latar belakang yang berbeda dan beragam dalam kehidupan pesantren menjadi sebuah pelajaran berharga bagi santri ketika kembali ke masyarakat yang tingkat perbedaannya tentu lebih besar lagi. Semoga dengan usia 43 tahun ini ribuan alumni pesantren LPI-PKP tetap mampu memberikan sesuatu yang sangat bermakna, bagi masyarakat dalam berbagai profesi dan jabatan yang diembannya. Masa depan pesantren ada di tangan alumni… Milad Barokah pesantrenku.